Home > News

Tarif Pengiriman LNG Naik Tajam Akibat Krisis Hormuz

Rute pengiriman kargo spot ke Asia kini kembali menggiurkan seiring harga yang lebih kompetitif dibandingkan Eropa
Selat Hormuz merupakan salah satu titik urat nadi pelayaran kargo minyak dunia (Ilustrasi). Sumber:Freepik
Selat Hormuz merupakan salah satu titik urat nadi pelayaran kargo minyak dunia (Ilustrasi). Sumber:Freepik

ShippingCargo.co.id, Jakarta — Biaya pengiriman gas alam cair (LNG) global kembali melonjak tajam, mencapai rekor tertinggi dalam delapan bulan terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh dua faktor utama: minimnya ketersediaan kapal tanker LNG dan ketegangan geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah, khususnya potensi konflik di Selat Hormuz.

Menurut data dari Spark Commodities, tarif sewa kapal bermesin dua tangki berkapasitas 174.000 meter kubik di rute Atlantik kini menyentuh angka 51.750 dolar AS per hari. Di wilayah Pasifik, tarif serupa melonjak menjadi 36.750 dolar AS per hari, tertinggi sejak Oktober 2024.

Analis Spark Commodities, Qasim Afghan, menyatakan bahwa kelangkaan kapal disebabkan oleh pergeseran rute kargo LNG dari Amerika Serikat serta meningkatnya permintaan dari negara seperti Mesir, yang membuka tender untuk 160 kargo LNG hingga 2026.

Namun, lonjakan tarif ini juga diperparah oleh konflik geopolitik. Ketegangan antara Israel dan Iran telah menciptakan kekhawatiran bahwa Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui 20% pasokan minyak dan gas global—dapat ditutup sebagai aksi balasan. Kondisi ini membuat pemilik kapal menunda penyewaan armadanya, yang mengurangi suplai kapal di pasar dan secara langsung menaikkan tarif pengiriman.

Efek domino juga terasa di sektor asuransi. Premi risiko perang untuk kapal LNG yang melintasi Selat Hormuz dilaporkan melonjak hingga lima kali lipat sejak konflik meletus. Hal ini tentu berdampak langsung pada biaya operasional dan keputusan logistik para pelaku industri energi global.

Rute pengiriman kargo spot ke Asia kini kembali menggiurkan seiring harga yang lebih kompetitif dibandingkan Eropa. Namun, waktu tempuh yang lebih panjang, terutama melewati Tanjung Harapan, membuat kapal lebih lama tersedia untuk disewa ulang, sehingga memperketat pasokan kapal LNG global.

Dengan situasi yang belum menunjukkan tanda mereda, pelaku pasar energi dan pelayaran perlu menyiapkan strategi mitigasi menghadapi ketidakpastian yang kian meningkat di kawasan strategis ini.

× Image