Home > Shipping

Indef: Perluas Ekspor ke Negara Nontradisional!

Ekspor ke negara non-tradisional jadi respons strategis terhadap naiknya tarif perdagangan sebesar 32 persen.
Aktivitas bongkar muat peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (26/9/2024). Sumber:Republika/Prayogi
Aktivitas bongkar muat peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (26/9/2024). Sumber:Republika/Prayogi

ShippingCargo.co.id, Jakarta—Kebijakan tarif 32 persen yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap produk Indonesia terus menjadi perhatian. Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eisha Maghfiruha Rachbini, menyatakan bahwa langkah terbaik untuk memitigasi dampaknya adalah dengan memperluas kerja sama dagang ke negara tujuan ekspor nontradisional, seperti kawasan Timur Tengah dan Afrika.

“Pemerintah perlu menginisiasi perjanjian kerja sama dengan negara nontradisional untuk mendorong ekspor produk terdampak,” ujarnya, Kamis (3/4/2025), seperti dilansir oleh Republika. Negara-negara nontradisional ini, menurut Eisha, adalah pasar yang selama ini belum digarap maksimal oleh Indonesia, padahal punya potensi besar untuk menyerap produk seperti tekstil, alas kaki, elektronik, furnitur, kelapa sawit, karet, dan produk perikanan—semuanya termasuk dalam daftar komoditas yang paling terdampak oleh kebijakan tarif baru AS.

Lebih lanjut, Eisha menegaskan pentingnya mengoptimalkan perjanjian perdagangan bilateral dan multilateral, termasuk penyelesaian dan pemanfaatan berbagai Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) yang tengah dijajaki. Ia juga mendorong pemerintah untuk berinvestasi pada teknologi dan peningkatan keterampilan tenaga kerja, sebagai strategi jangka panjang untuk meningkatkan daya saing produk nasional di pasar global.“Investasi dalam teknologi dan inovasi, serta peningkatan skill SDM, penting agar produk kita tetap bisa bersaing,” tambahnya.

\Dari sisi angka, ekspor Indonesia ke AS menyumbang sekitar 10,3 persen dari total ekspor tahunan, menjadikannya pasar ekspor terbesar kedua setelah Tiongkok. Karena itu, penurunan ekspor akibat tarif tinggi ini dikhawatirkan akan berdampak signifikan pada kinerja neraca perdagangan Indonesia.

Seperti diberitakan sebelumnya, Presiden AS Donald Trump pada Rabu (2/4/2025) resmi mengumumkan kenaikan tarif impor terhadap komoditas dari 60 negara, termasuk Indonesia. Keputusan tersebut merupakan bagian dari kebijakan tarif resiprokal global yang diumumkan sebagai bagian dari “Liberation Day”.

Merespons kondisi ini, Deputi Bidang Diseminasi dan Media Informasi Kantor Komunikasi Kepresidenan Noudhy Valdryno memaparkan tiga langkah strategis dari Presiden Prabowo Subianto:

  1. Memperluas mitra dagang Indonesia ke pasar nontradisional.
  2. Mempercepat hilirisasi sumber daya alam, agar produk ekspor punya nilai tambah lebih tinggi.
  3. Memperkuat konsumsi domestik untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional.

Kebijakan tarif AS menjadi peringatan bagi Indonesia untuk tidak terlalu bergantung pada pasar tradisional, dan mulai membangun ketahanan ekspor berbasis inovasi, diversifikasi pasar, dan reformasi struktural.

× Image