Home > News

Trump Siapkan Tarif Baru, Indonesia Harus Waspada

Ekonom Universitas Andalas tegaskan Indonesia perlu strategi perdagangan yang adaptif.
Aktivitas bongkar muat peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (26/9/2024). Sumber: Republika/Prayogi
Aktivitas bongkar muat peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (26/9/2024). Sumber: Republika/Prayogi

ShippingCargo.co.id, Jakarta—Presiden AS Donald Trump kembali mengancam akan menaikkan tarif perdagangan sebagai bagian dari strategi memangkas defisit. Kebijakan ini berpotensi mengguncang perdagangan global, termasuk bagi Indonesia yang memiliki defisit perdagangan dengan AS sebesar $18 miliar.

Seberapa besar dampaknya? Ekonom memperingatkan potensi krisis global jika perang dagang benar-benar terjadi,per Republika pada Rabu (2/4/2024).

Menurut laporan Bloomberg Economics,Tiongkok menjadi target utama dengan defisit terbesar ($295 miliar), diikuti Meksiko, Vietnam, dan Jerman. Sementara Indonesia mungkin tidak berada di urutan teratas, tetap ada risiko tekanan ekonomi.

Terlebih, setiap negara menghadapi tantangan dagang berbeda. Misalnya, Tiongkok hanya memiliki perbedaan tarif 1%, tetapi menghadapi PPN 13% dan hambatan non-tarif 40%. Indonesia sendiri memiliki tarif lebih tinggi (5%), PPN 12%, dan hambatan non-tarif 13%, sehingga total beban dagang mencapai 30%.

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi menegaskan pentingnya strategi perdagangan yang adaptif agar Indonesia tetap kuat menghadapi tekanan global. Sementara Fadhil Hasan dari Indef menilai bahwa perang dagang akan merugikan semua pihak dan berpotensi menyeret dunia ke dalam krisis ekonomi.

Di tengah ketegangan perdagangan, Indonesia harus segera bertindak. Diversifikasi pasar ekspor, memperkuat industri dalam negeri, dan menjaga kebijakan ekonomi yang independen menjadi langkah mitigasi yang perlu diambil.

× Image